Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 02 Desember 2017

KARAKTER KEPEMIMPIN HUMANIS RELIGIUS PADA DIRI RASULULLAH SAW



Tanggal 12 Rabiul Awal 1439 H, bertepatan pada hari Jum’at  01 Desember 2017 seluruh kaum muslim merayakan maulid Nabi Muhammad SAW, tidak lain merupakan warisan peradaban Islam yang dilakukan secara turun temurun.
Dalam konteks ini, Maulid harus diartikulasikan sebagai salah satu upaya transformasi diri atas kesalehan umat. Yakni, sebagai semangat baru untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokrasi seperti toleransi, transparansi, anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta lingkungan, pluralisme, keadilan sosial, ruang bebas partisipasi, dan humanisme.
Pertama, Nabi mengedepankan akhlakul karimah dalam memimpin. Akhlakul karimah menjadi kekuatan Nabi dalam memimpin umat (QS al-Qalam [68]: 4).
Kedua, memiliki rasa empati yang tinggi. Beliau tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang lain, dan tidak berbicara kecuali yang bermanfaat. Membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, dan tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya (HR Tirmidzi).
Ketiga, mengedepankan keteladanan dalam memimpin. Dikisahkan dari al-Barra’ bin Adzib, ia berkata: "Kulihat beliau mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perutnya. Sempat pula kudengar beliau bersabda, "Ya Allah, andaikan bukan karena Engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bersedekah dan tidak shalat. Turunkanlah ketenteraman kepada kami dan kokohkanlah pendirian kami jika kami berperang. Sesungguhnya para kerabat banyak yang sewenang-wenang kepada kami. Jika mereka menghendaki cobaan, kami tidak menginginkannya."
Keempat, mengedepankan kebersamaan. Nabi SAW mengusulkan ide win-win solution dalam penyelesaian peletakan hajar aswad. Direntangkannya sebuah kain besar, kemudian hajar Aswad diletakkan di bagian tengahnya, lalu Nabi meminta kepada setiap pemimpin kabilah memegang ujung kain itu. Setelah itu, hajar Aswad disimpan ke tempat semula di Ka’bah. Cara seperti itu, tidak ada satu pun kabilah yang merasa dirugikan, bahkan mereka sepakat menggelari Nabi sebagai al-Amin (orang yang terpercaya).
Kelima, tegas dan tidak pandang bulu dalam penegakan hukum. Nabi SAW tak pernah menetapkan hukum dengan rasa belas kasihan, pilih kasih, atau tebang pilih. Ia tegas dan tidak memihak siapa pun, baik kepada pejabat pemerintahannya, sahabatnya, masyarakat kecil, maupun anggota keluarganya sendiri, termasuk anaknya.
Keenam, bijak dalam mengambil keputusan. Sebelum memutuskan suatu perkara, Nabi SAW memikirkannya secara matang dan mengacu pada kaidah Alquran. Seperti ketika beliau memutuskan sanksi rajam terhadap seorang wanita pelaku perzinaan.
Dengan demikian, jika para pengelola bangsa ini mau terus mengkaji dan meneladani kepemimpinan Nabi, akan dapat membangun Indonesia menjadi bangsa yang tangguh dan mandiri. Wallahu a'lam bishawab.

Kamis, 02 November 2017

EMPAT POHON PERSAUDARAAN*

Dalam surat al-Hujuraat ayat 13 Allah SWT berfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dari ayat tadi, ada satu kalimat yang menjadi penekanan dalam khotbah jum'at kali ini yakni "li-ta'aarofuu".
Bahwa manusia diciptakan di bumi iniuntuk saling kenal mengenal dan saling menjaga hubungan baik. Hal itu akan menjadi pokok ukhuwah (persaudaraan) yang kuat. 
Ada sebuah kalimat hikmah dan bijak yang disampaikan oleh al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Beliau berkata :
"Perumpamaan persaudaraan dalam Islam adalah seperti sebuah pohon yang disirami dengan air berupa saling mengunjungi, membuahkan saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan. Jika pohon itu tidak disirami, maka ia akan mengering, dan jika tidak berbuah maka ia akan ditebang."

Sungguh indah dan menarik kalimat bijak tadi. Dan memang benar, bahwa persaudaraan tanpa silaturrahmi dan saling mengunjungi adalah ibarat pohon yang tidak terawat. Ia akan kering dan mati, serta tidak bermanfaat sama sekali.
Persaudaraan yang telah mati akan melahirkan sikap apriori (ketidak pedulian) akan ketimpangan hidup sesama Muslim. Maka akan terjadilah permusuhan, ketimpangan sosial.kezaliman dan ketidak adilan dimana yang kuat dan kaya akan selalu berusaha menang atas mereka yang lemah dan miskin.
Dalam sebuah hadits qudsi HR. Muslim,menyebutkan:
بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيْهِ
bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim).
Mereka yang saling mengasihi, duduk mengkaji ilmu, berdzikir, membaca Al-Qur'an dan saling mengunjungi inilah yang akan menempati tempat yang sangat mulia.
Ketahuilah, bahwa jika diibaratkan pohon, maka menjalin persaudaraan seperti 4 jenis pohon.
Pertama : Pohon yang rindang tapi tidak berbuah seperti pohon beringin, yakni menjalin persaudaraan dengan orang yang memberi manfaat dalam urusan dunia saja, sedang akhiratnya nihil.
Kedua : Pohon yang berbuah tapi tidak rindang seperti pohon tomat. Adalah menjalin persaudaraan dengan orang yang bisa membimbing kita dalam urusan agama dan akhirat, namun secara duniawi ia termasuk golongan faqir.
Ketiga : Pohon yang rindang dan berbuah lebat seperti pohon mangga, merupakan perumpaman bagi orang yang bisa memberi manfaat duniawi dan ukhrowi. Bersaudara dengan mereka akan membuahkan manfaat lahir bathin.
Keempat : Pohon yang tidak rindang dan tidak berbuah seperti pohon kaktus. Tidak memberi manfaat buah dan tidak pula bisa dijadikan tempat berteduh, dengan kata lain tidak memberi manfaat secara duniawi dan ukhrowi.
Sidang Jum'at rohimakumulloh..
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah lepas dari pergaulan, saling membutuhkan dan kebersamaan.kebersamaan yang dibangun lewat tolong menolong dalam maslah pribadi maupun dalam membangun fasilitas-fasilitas agama.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah : 2
...وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢
dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Akhirnya diakhir khutbah jumat ini, mari kita memohon kepada allah SWT semoga dengan senantiasa menjalin persaudaraan karena Allah, kita akan dikumpulkan kelak sebagai satu golongan yang menduduki tempat mulia. Itu bisa kita wujudkan dengan selalu membangun rasa empati pada sesama, saling tolong menolong, saling mengunjungi dan saing menasehati atas dasar keimanan dan ketaqwaan. Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan pertolongan kepada kita semua. Aamiin.
*Untaian Khutbah Jum'at






Rabu, 27 September 2017

TAHUN BARU HIJRIAH*



Di akhir-akhir ini, banyak orang yang jauh dari agama Allah, maksiat merata dan kerusakan melanda sehingga hampir tidak ada satu pun manusia kecuali telah dilumuri oleh berbagai noda dosa, sehingga banyak orang yang sadar dari kelalaiannya. Sudah mulai bosan dengan hidupnya hingga berangkatlah untuk keluar dari kegelapan kepada cahaya. menuju menara taubat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum mukmin untuk bertaubat, firman-Nya:
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An Nuur: 31)
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan mulia. Allah berfirman :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ [ التوبة/36]
“Sesungguhnya hitungan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam kitab (ketetapan) Allah pada hari Dia ciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan mulia, itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat aniaya terhadap diri kalian di dalamnya”. (Qs At-Taubah: 36)
Abu Bakrah –radhiyallahu anhu– meriwayatkan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda :
” الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “رواه البخاري ومسلم
“Sesungguhnya zaman senantiasa berputar sesuai karakternya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun adalah dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan mulia; yang tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzul-Qa’dah, Dzul-Hijah dan Muharam, sedangkan satunya “Rajab” berada di antara bulan Jumada dan Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sudah sepantasnya bagi seorang muslim menyambut tahun baru ini dengan ketaatan kepada Allah, patuh kepada perintahNya dan mempersiapkan diri untuk perjumpaan denganNya. Sepantasnya pula merasakan keagungan, kemuliaan dan kedudukan bulan ini:
لِغَدٍ قَدَّمَتْ مَا نَفْسٌ وَلْتَنْظُرْ
“…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.…”

Usaha Pertama, mematangkan spiritualitas (Narasikan&Jelaskan)
Usaha kedua, memotivasi diri untuk terus mencari ilmu (Narasikan&Jelaskan)
* Sebuah Ringkasan Teks Khutbah

Rabu, 19 Juli 2017

Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) Berbasis Humanis Religius

       Ibarat seorang ibu yang sedang mengandung, tentu perlu mempersiapkan kelahiran anaknya dengan sebaik-baiknya. Begitu juga degan sebuah sekolah/kampus yang akan menyambut kedatangan siswa/mahasiswa baru, supaya peserta didik baru itu bisa masuk sekolah/kampus dengan gembira, optimis, tahu tentang apa yang harus dilakukan, tahu dan mau menjalankan proses belajar dan menerima kebijakan sekolah/kampus. Singkatnya peserta didik memiliki orientasi yang jelas tentang sekolah/kampus yang ia pilih. Untuk mencapai tujuan itu maka dilaksanakanlah Masa Orientasi Siswa (MOS)/Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK). Tujuannya adalah untuk mengenalkan siswa/mahasiswa baru dengan kondisi sekolah/kampus, setiap kegiatan yang ada di MOS/OSPEK diarahkan ke sana. Peran MOS/OSPEK sebagai pintu masuk di sebuah sekolah/kampus, maka MOS/OSPEK memiliki arti yang sangat penting. Mengingat langkan awal yang baik merupakan awal yang baik pula untuk kesuksesan di masa yang akan datang.
     Namun sungguh ironis jika kita membicarakan MOS/OSPEK pada saat ini. Entah berrmula sejak kapan? sampai kapan keadaan seperti ini akan berjalan? Bagaimana tidak? MOS/OSPEK yang tujuannya sebagai wahana mengenalkan para siswa dengan lingkungan baru, telah menjadi suatu ajang/lahan balas dendam. “Kalo aku dulu begini, maka mereka juga harus begini”!. Ungkapan itulah yang sering muncul.
       Seorang pakar konseling menulis sebuah puisi tentang pendidikan seseorang sekitar 62 tahun yang lalu. Jika kita lihat tulisan Darothy Law Nolte mungkin kita berfikir ternyata ini semua sudah terjadi jauh sebelum abad ke-20. Mungkinkah MOS/OSPEK yang kita lakukan tanpa kekerasan? Hal ini menjadi masalah krusial yang selalu menjadi perdebatan hangat setiap mahasiswa. Mungkinkah hal yang “pernah” kita rasakan berubah menjadi sebuah acara yang lebih “santun” dan juga “mencerdaskan” tanpa harus melakukan kekerasan? Mungkinkah?

Masa Orientasi Siswa (MOS) dan Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) Berbasis Humanis Religius

      Hendaknya MOS/OSPEK benar-benar menjadi masa membentuk karakter individu (Akhlak) yang terintegrasi sejalan dengan visi dan misi lembaga pendidikan. Ini bisa dilakukan mulai dengan latihan dan penanaman sikap disiplin diri, tanggung jawab, mengenali potensi diri dan menemukan motivasi diri dalam belajar, melatih kepekaan agama dan sosial. Jenis kegiatannya bisa berfariasi sesuai dengan kebutuhan sekolah.

     Penamanan disiplin diri dilatih melalui ketetapan waktu. Pengenalan tata tertib sekolah/kampus untuk memberi gambaran yang jelas terhadap apa yang bisa dilakukan dan dikembangkan di lembaga pendidikan dan apa yang mestinya dihindari. Di samping itu juga ditanamkan sikap tanggung jawab terhadap konsekwensi dari apa yang dilakukannya, maka kalau ada peserta didik yang melanggar kesepakatan diberi sanksi. Penjelasan tentang kurikulum pendidikan juga harus dilakukan, agar peserta didik tahu apa yang harus dipelajari selama belajar di sekolah. P
eserta didik diajak untuk mengenali kemampuan dan mengembangkan diri diri khusunya dalam membongkar konsep-konsep negatif dan diganti dengan konsep dan pikiran yang positif tentang diri dan orang lain yang meliputi hablum min Allah, hablum min an-Nash wa hablum min 'alam.

      Menyadari kekuatan dan pikiran manusia dalam memotivasi untuk mencapai apa yang dipirkan. Peserta didik dilatih utuntuk selalu menggunakan bahasa yang positif tentang dirinya dan orang lain. Siswa diajak untuk menenal kemampuan otak kiri dan otak kanan dan mengembangkan otak kanan sehingga berimbang. Untuk memotivasi siswa dan menanamkan rasa kebanggaan terhadap sekolah yang telah dipilihnya, bisa dilakukan dengan mrndatangkan kaka kelas atau alumni yang berprestasi baik di bidang akademik ataupun non akademik, untuk mensaringkan pengalaman perjuangan mereka, sehingga mendorong mereka untuk lebih berprestasi untuk masa depan. Akhirnya peserta didik diajak untuk memikirkan orang lain yang kekurangan dan membangun solidaritas dengan mereka dalam bingkai TawasuthTawazun,  Ta’adul,  dan Tasamuh.

   Yakinlah bahwa angin perubahan sudah bertiup kencang, dan kita semua bisa menjadikan segalanya lebih baik.

Jika seseorang dibesarkan dengan celaan, la belajar memaki.

Jika seseorang dibesarkan dengan permusuhan, la belajar berkelahi.

Jika seseorang dibesarkan dengan ketakutan, la belajar gelisah.

Jika seseorang dibesarkan dengan rasa iba, la belajar menyesali diri.

Jika seseorang dibesarkan dengan cemoohan, la belajar rendah diri.

Jika seseorang dibesarkan dengan lri hati,la belajar kedengkian.

Jika seseorang dibesarkan dengan dipermalukan, la belajar merasa bersalah.

Jika seseorang dibesarkan dengan dorongan, la belajar percaya diri.

Jika seseorang dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri.

Jika seseorang dibesarkan dengan pujian, la belajar menghargai.

Jika seseorang dibesarkan dengan penerimaan, la belajar mencintai.

Jika seseorang dibesarkan dengan dukungan, la belajar menyenangi diri.

Jika seseorang dibesarkan dengan pengakuan, Ia belajar mengenali tujuan,

Jika seseorang dibesarkan dengan berbagi, la belajar kedermawanan.

Jika seseoreng dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, Ia belajar kebenaran dan keadilan.

Jika seseorang dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika seseorang dibesarkan dengan ketenteraman, la belaiarberdamai dengan pikiran.

dan Jika seseorang dibesarkan dengan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Kamis, 15 Juni 2017

NILAI-NILAI HUMANISME DALAM PUASA

Puasa diperintahkan Allah untuk menjadikan manusia untuk bertaqwa. Dengan berpuasa seseorang akan selalu dididik untuk selalu bertaqwa kepada Allah dimanapun berada, baik ketika ada banyak orang atau saat sendiri. Seseorang yang berpuasa, tidak akan mudah terombang ambing oleh godaan dan rayuan kemewahan dunia karena seseorang yang berpuasa telah dibentengi oleh iman dan taqwa yang kecendrungan memanusiakan manusia.
Setiap orang Islam yang beriman senantiasa merindukan bulan Ramadhan. Kerinduannya melebihi kecintaannya terhadap orang yang paling dicintainya. Bagi orang beriman, di bulan yang penuh berkah inilah momentum yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan kualitas hidupnya, baik kualitas iman dan takwa maupun amal salehnya.
Orang yang bertaqwa akan selalu merasa setiap perbuatan yang dilakukan selalu dilihat oleh Allah SWT dimanapun dan kapanpun berada. Sehingga manusia akan selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangann-Nya, dengan rasa tulus dan ikhlas hanya karena mengharap ridha dari Allah SWT semata.
Orang Berpuasa yang dilandasi dengan penuh keimanan kepada Allah, Rasulullah, dan percaya pada hari akhir, semestinya memunculkan manusia-manusia yang imannya tinggi, ibarat kendaraan baru diservis habis. Puasa dengan landasan iman dan takwa dapat menciptakan manusia pilihan karena sifat dan perilakunya sehat secara spiritual (suci) maupun sehat secara jasmani. “Dan beruntunglah orang yang menyucikan diri (dengan puasa dan zakat), dan menyebut Tuhannya (dengan bertakbir, lalu mengerjakan salat,” (QS. Al-A’laa: 14-15).
Secara fitrahnya, puasa Ramadan mencetak manusia bertakwa dengan berbagai sifat dan sikap perilaku positifnya, Antara lain bersiap jujur, adil, rendah hati, berpikir positif, berpihak kepada kebenaran, menempati janji, pandai menyukuri nikmat, menghargai orang lain, simpati dan empati terhadap sesama, pejuang kaum lemah (miskin), serta mengharapkan hidup penuh limpahan keberkahan. Iman dan takwa adalah bekal terbaik atau sebaik-baik bekal hidup manusia baik ketika di dunia apalagi di akhirat kelak (surga), sebaik-baik tempat kembali yang abadi. Wallahualam bissawab.


Senin, 10 April 2017

SHALAT MEMBENTUK PRIBADI SUKSES SEJATI DUNIA AKHIRAT*



Hadist Nabi menjelaskan bahwa yang membedakan antara muslim dan kafir terletak pada shalat. Menurut Hadist Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam "Janji (sebagai pembeda) di antara kami dan mereka (orang kafir) ialah dalam hal shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka benar-benar ia telah kafir." (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai).
Hadist lain, "Perbedaan antara hamba Allah (yang beriman dan yang kafir) adalah menyia-nyiakan shalat." (HR. Muslim)
Kata Shalat berasal dari bahasa arab, secara bahasa dapat diartikan sebagai “doa”. At-Taubah ayat 103:
õ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; 3 ..ÇÊÉÌÈ
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.
Istilah shalat juga bisa berarti “memberi berkah” sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Ahzab ayat 56:
¨bÎ) ©!$# ¼çmtGx6Í´¯»n=tBur tbq=|Áムn?tã ÄcÓÉ<¨Z9$# 4 $pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#q=|¹ Ïmøn=tã (#qßJÏk=yur $¸JŠÎ=ó¡n@ ÇÎÏÈ
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Dalam kitab fathul muin para ulama. mendefenisikan, shalat diartikan sebagai beberapa ucapan dan perbuatan tertentu, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Bagaimana Memaknai Tujuan dan Manfaat Shalat
1.    Shalat adalah tiang agama, kata Rasulullah Saw. Dengan shalat, seseorang terkendali akalnya, jiwanya, fisiknya, bahkan sampai pada lingkungan sosialnya. Namun yang perlu ditekankan, shalat yang dimaksud bukanlah shalat yang hanya dijadikan kebiasaan atau takut masuk neraka dan ingin masuk surga. Melainkan shalat yang kita yang disertai gerakan sadar. Sinkronisasi dari ketundukan tubuh dan akal. Tidak ada alasan untuk tidak shalat karena Allah Swt takkan pernah mempersulit umat-Nya. Akhirul kata; untuk apa kita shalat? Dijawab dengan indah dalam Al-qur’an surah al-ankabut ayat 45;
ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7øs9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ  
Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2.    Manfaat shalat bertujuan untuk memuliakan akhlak kita pada diri sendiri, sesama manusia, alam semesta dan Pemilik Segala Sesuatu; yakni Allah Swt.
*Materi singkat Khutbah Jumat di Masjid Moh. Mardiana