Fish

Kamis, 10 Februari 2011

BUDAYA ORGANISASI DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

Pengaruh budaya organisasi terhadap prilaku organisasi amat signifikan. Karena itu menciptakan budaya organisasi yang sifatnya unik untuk setiap organisasi amatlah penting. Untuk itu perlu dipahami apa budaya organisasi itu. Budaya organisasi sebagai perangkat lunak dalam suatu lembaga mempunyai peranan penting, karena diharapkan lembaga tersebut dapat bersifat dan bersikap lentur dan fleksibel. Pendidikan adalah sebuah roses pembudayaan, yang berusaha untuk mengembagnkan serta mengintegrasikan potensi dan nilai-nilai kemanusiaan pada diri individu, agar menjadi pribadi yang mampu secara internal mempersiapkan dirinya dan secara eksternal mampu merespon dan berkomunikasi dengan dunianya.
Budaya organisasi sebagai perangkat lunak dalam suatu lembaga mempunyai peranan penting, karena diharapkan lembaga tersebut dapat bersifat dan besikap lentur dan fleksibel. Sebagaimana budaya yang tidak akan pernah mengalami kejumudan dan akan menjadi sangat sempurna jika dipadu dengan agama yang bersumber pada wahyu illahi. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa agama termasuk dalam lingkup kebudayaan, itupun jika umat beragama mampu mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan budayanya. Jika tidak demikian, justru akan menjadi budaya umat yang termarginalkan dalam persaingan dalam dunia pendidikan.

1. Pengertian Budaya
Geert Holfstede dalam Cultura Consequences, mendefinisikan budaya seagai Collective programming of the mind, yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu :
1. Universal level of mental programming, yaitu sytem bioligikal operasional manusia termasuk perikaunya yang bersifat universal seperti, senyuman dan tangisan.
2. Collective level of mental programming, misalnya bahasa.
3. Individual of mental programming, musalnya kepentingan individu.
Ada juga yang mendefinisikan bahwa kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Dalam Hikmat, Melville J. Herkovist dan Bonislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Sedangkan menurut Edward B. Tylor mengatakan bahwa budaya adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu (1) Ideas, yaitu suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Wujud ini bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau ditrawang, namun wujud ini hidup dalam pikiran suatu masyarakat tertentu. Namun sekarang, wujud ini banyak ditampilkan dalam tulisan melalui arsip-arsip, disk, kaset atau yang lainnya. (2) Activities, yaitu suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dengan kata lain wujud ini adalah sistem sosial. Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lainnya. (3) Artifact, yaitu wujud berupa benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini juga disebut sebagai kebudayaan fisik, karena berbentuk total dari hasil fisik dari aktifitas, perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.
1.1. Tingkatan Budaya
Schein membagi kedalam tiga tingkatan budaya :
1. Artifacts, yaitu struktur dan proses organisasional purba yang dap[at diamati tapi sulit ditafsirkan.
2. Espaused Values, yaitu tujuan, strategi dan filsafat.
3. Basic Underlaying assumptions, yaitu kepercayaan, persepsi, keopercayaan, perasaan yang menjadi sumber nilai dan tindakan.
1.2. Fungsi Budaya
Ndhara membagi fungsi budaya sebagai :
- Identitas dan citra masyarakat, seperti sejarah, kondisi geografis.
- Pengikat dalam masyarakat, saling berbagi informasi, tolong monolong dll.
- Sumber. Budaya sebagai sumber inspirasi, kebanggaan dan suatu sumber daya.
- Kemampuan untuk membentuk nilai tambah.
- Pola prilaku, berisi norma-norma dan garis batas toleransi social
- Pengganti formalisasi
- Budaya sebagai warisan
- Mekanisme adaptasi terhadap budaya.
- Proses bangsa konkruen dengan negara sehingga terbentuk natioan state.
2. Pengertian Organisasi
Kata organisasi berasal dari bahasa Inggris Organization, yang berarti hal yang mengatur atau menyusun bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain, yang tiap-tiap bagian mempunyai fungsi tersendiri sesuai kapasitasnya. Selanjutnya Sulistyorini mengutip definisi organisasi dari beberapa tokoh, seperti James D. Money, mengatakan organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai satu tujuan bersama, sedangkan menurut Roolp Currier Davis, organisasi adalah sesuatu kelompok orang-orang yang sedang bekerja kearah tujuan bersama di bawah kepemimpinan. Dengan demikian, organisasi dapat dipahami sebagai struktur hubungan antar pribadi, namun dalam kenyataannya organisasi banyak didasarkan atas dasar wewenang formal dan kebiasaan dalam suatu sistem administrasi.
Gibson (200:5) Organisasi adalah unit yang dikoordinasikan dan yang berisi paling tidak dua orang atau lebih yang fungsinya dalah untuk mencapaio tujuan bersama. Moorehed dan Griffin (1989:392) Organisasi adalah sekelompok orrang yang bekerjasama unutk mencapai tujuan bersama. Organisasi pendidikan adalah lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya, organisasi sekolah dan perguruan tinggi khususnya.
Jadi, secara sederhana organisasi adalah suatu wadah atau setiap bentuk perserikatan kerjasama manusia yang didalamnya terdapat struktur organisasi, pembagian tugas, hak dan tanggung jawab untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dari pengertian ini, maka dapat ditentukan beberapa unsur suatu organisasi akan terbentuk, unsur-unsur tersebut antara lain:
a. Sekelompok orang dimana dari orang-orang tersebut ada yang bertindak sebagai pemimpin dan dipimpin.
b. Kerjasama dengan orang-orang yang berserikat, dengan adanya kerjasama antara orang- orang yang berserikat tersebut, maka tentu ada pula pembagian tugas (wewenang), tanggung jawab, struktur organisasi, aturan-aturan asas atau prinsip yang mengatur kerjasama tersebut.
c. Tujuan bersama hendak dicapai, tujuan ini merupakan kesepakatan dari orang yang berserikat tersebut yang akhirnya dikenal dengan istilah tujuan organisasi.
3. Pengertian Budaya Organisasi
Budaya organisasi memilki makna yang luas. Menurut Luthans (1998), budaya organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai organisasi akan berprilaku sesuai dengan budaya yang berlaku agar diterima oleh lingkungannya .
Budaya organisasi dapat dipandang sebagai sebuah sistem. Ia mengutip dari bukunya Mc Namara yang mengemukakan bahwa dilihat dari sisi in-put, budaya organisasi mencakup umpan balik (feed back) dari masyarakat, profesi, hukum, kompetisi dan sebagainya. Sedangkan dilihat dari proses, budaya organisasi mengacu kepada asumsi, nilai dan norma, misalnya nilai tentang : uang, waktu, manusia, fasilitas dan ruang. Sementara dilihat dari out-put, berhubungan dengan pengaruh budaya organisasi terhadap perilaku organisasi, teknologi, strategi, image, produk dan sebagainya. Budaya organisasi sebagai sistem, banyak terdapat dalam organisasi pendidikan.
3.1. Karakteristik Budaya Organisasi
Dalam Sulistyorini, Fred Luthan menjelaskan enam karakteristik penting dari budaya organisasi, yaitu:
a. Observed behavioral reguralities, yaitu keberaturan cara bertindak dari para anggota yang tampak teramati.
b. Norms, yaitu berbagai standar perilaku yang ada, termasuk didalamnya tentang pedoman sejauh mana suatu pekerjaan harus di lakukan.
c. Dominant values, yaitu adanya nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota organisasi.
d. Philosophy, yaitu adanya kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan keyakinan organisasi dalam memperlakukan pelanggan dan karyawan.
e. Rules, yaitu adanya pedoman yang ketat, dikaitkan dengan kemajuan organisasi.
f. Organization climate, merupakan perasaan keseluruhan yang tergambarkan dan disampaikan melalui kondisi dan tata ruang, cara berinteraksi para anggota organisasi dan cara anggota organisasi memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain.
3.2. Fungsi Budaya Organisasi
Anthony dan Govindarajan (1998), ada empat fungsi budaya organisasi:
1. Memberikan suatu identitas organisasinal kepada para angota organisasi
2. Memfasilitasi atau memudahkan komitmen kolektif
3. Meningkatkan stabilitas sistem sosial dan
4. Membentuk prilaku dengan membantu anggota-anggota organisasi memilki sense terhadap sekitarnya.
Dalam hal ini, budaya memiliki sejumlah fungsi di dalam organisasi. Pertama, budaya mempunyai peran menetapkan tapal batas, artinya budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan yang lain. Kedua, budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi. Ketiga, budaya mempermudah timbulnya komitmen pada suatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang. Keempat, budaya itu meningkatkan kemantapan sistem sosial. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat dalam bertindak. Budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan.
4. Terbentuknya Budaya Organisasi
Budaya organisasi tidak muncul begitu saja, namun bila sudah muncul maka budaya tersebut sukar untuk dipadamkan, artinya akan melekat dalam perilaku organisasi tersebut. Kebiasaan, tradisi dan cara-cara umum yang dilakukan sebelumnya dan tingkat keberhasilan yang diperoleh dengan usaha keras tersebut, ini membimbing ke sumber paling akhir dari budaya suatu organisasi. Karena disadari bahwa budaya organisasi menyangkut nilai-nilai yang dipahami dan dianut bersama dalam suatu organisasi. Nilai tersebut dapat terbentuk melalui beberapa cara antara lain: pimpinan, pendiri/ pemilik dan interaksi antar individu dalam organisasi.
Organisasi terbentuk akibat dari peran serta subjek dan objek budaya, dalam arti perlu campur tangan dari pelaku-pelaku budaya, sehingga terbentuk dan mempunyai karakteristik budaya sendiri (BO). BO digunakan sebagai alat organisasi dalam menjalankan visi dan misinya dengan lingkungannya. Dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya ini akn terjadi atau akan muncul Budaya Sebagai Infut (BSI), proses interaksi budaya dan Budaya Sebagai Output (BSO).
5. Budaya Organisasi Dalam Sekolah (Madrasah)
Perubahan aspek-aspek dan tingkat administrasi serta suatu peningkatan kemampuan teknik-teknik manajerial pendidikan itu membutuhlkan dukungan budaya organisasi. Dalam hubungan itu, budaya organisasi kreativogenik (Supriadi dalam Idochi, 2004)perlu dikembangkan guna mendukung desentralisasi pendidikan ditingkat satuan pendidikan.
Deskripsi pekerjaan:
1. Kepala Sekolah:
- Menjalankan supervisi umum sekolah, mengkoordiansi pekerjaan para wakil KEPSEK,
- Menilai efektivitas seluruh organisasi,
- menetapkan kebijaksanaan, prosedur dan hal-hal lain yang tidak ditugaskan secara khusus kepada suatu unit-bagian,
- Menciptaakan kelompok-kelompok kerja untuk menelaah dan menyarankan perbaikan-perbaikan dalam program dan pelayanan-pelayanan,
- Menyampaikan usul, pertanyaan tentang kebijaksanaan dan laporan tentang jalannya sekolah kepada atasan.
2. Wakil Kepala Sekolah (Kurikulum dan Guru):
- Memimpin studi tentang pengajaran secara kontinyu,
- mengatur program penataran bagi guru-guru,
- melakukan supervisi pengembangan kurikulum dengan bantuan komisi kurikulum,
- mengawasi supervisi dan evaluasi para guru oleh ketua bidang studi
- mengarahkan penyusunan lain; menyarankan buku-buku pelajaran,
- memeriksa metode-metode dan maslah-masalah belajar bersama-sama dengan guru-guru dan personel bimbingan,
- membuat saran tentang perubahan-perubahan pokok dalam program pengajaran kepada kepala sekolah,
- bekerjasama dengan pejabat yang bertanggungjawab tentang murid menyusun mata-mata pelajaran yang akan disediakan dan jadwal induk.
3. Wakil Kepala Sekolah (Murid)
- Mengurus program pelayanan murid yang lengkap yaang meliputi pelayanan pelayanan kesehatan, keamanan, bimbingan, testing dan pekerjaan sosial,
- Bekerja dngan kepala bimbingan dalam mengatur dan melaksanakn program bimbingan dan penyuluhan
- Mengatur penerimaan murid, pengembangan pelaporan dan tindak lanjut,
- mengurus pengembangan jadwal induk, prosedur penjadwalan dan penempatan murid-murid dikelas-kelas.
- Dengan bekerjasama dengan pejabat yang bertanggung jawab tentang personel mengajar, mengatur pekerjaan guru dan conselor yang bertalian denga kesejahteraan murid, mengatur program penataran personel bimbingan,
- Berkonsultasi dengan kepala bimbingan tentang segala aspek kebijaksanaan yang bertalian dengan murid.
4. Wakil Kepala Sekolah (TU)
- Memelihara dan mengawasi penggunaan bangunan, tanah dan barang-barang milik sekolah
- Memelihara catatan dan membuat laporan tentang semua hal mengenai ketata usahaan sekolah sesuai dengan kebijaksanaan kantor pusat
- Memperoleh dan mengusulkan pengangkatan personel non akademis dan mengatur pekerjaan mereka.
- Berkonsultasi denga pejabat sekolah lainnyatentang penggunaan dan pemeliharaan kantor-kantor dan ruangan-ruangan kelas.
- Mengizinkan penggunaan ruangan oleh orang luar
- Melakukan pembukuan keuangan dan menetapkan prosedur yang bertalian dengan semua dana kegiatan murid.
- Menerima, menyimpan dan membagikan buku, perbekalan dan bahan.
- Menyerahkan tenaga ahli dalam pembelian, pengawasan dan penggunaan harta benda, penyusunan anggaran belanja Dll.
Lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas Islam, yang biasa disebut dengan madrasah mempunyai peran penting dalam proses pembentukan kepribadian anak didik. Karena harapan orang tua, anaknya mempunyai 2 kemampuan dan pengetahuan sekaligus, yaitu pengetahuan IMTAQ dan pengetahuan IPTEK. Oleh karena itu, jika para pendidik benar-benar memahami harapan tersebut maka prospek lembaga pendidikan Islam sangatlah cerah.
Penampilan sekolah Islam (Madrasah) harus berperan kreatif dan aktif untuk mengembangkan kebudayaan yang menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya. Karena itu kepala sekolah Islam harus dapat menciptakan suasana yang islami, aman, tentram, damai dan sejahtera agar semua program dapat berjalan lancar. Kepemimpinan pendidikan Islam, disamping menjelaskan dimana kepemimpinan dan prosesnya berada dan berperan hendaknya mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri khusus kepemimpinan islam yang bersifat mendidik, membimbing dan tidak memaksa atau menekan dalam bentuk apapun.
B.Permasalahan
Manusia yang berbudaya mensyaratkan danya tiga wujud, dimana kesatuan antara ide, aktifitas dan hasil karya merupakan hasil kebudayaan yang otentik. Selanjutnya pandangan tentang binatang berbudaya merupakan anggapan yang salah, karena binatang tidak mempunyai konsep ide dan hasil karya, namun hanya mempunyai aktifita. Meskipun sampai sekarang terdapat menyerupai manusia, maka itulah hasil dari budaya manusia itu sendiri.
Permaslahannya adalah Budaya organisasi di Lembaga Pendidikan Islam nampak atau tidak nampak dan Apakah Budaya organisasi sengaja dibentuk atau ada dengan sendirinya?
Menurut Malik Fajar dalam Marno, menyatakan bahwa problem madrasah terbagi menjadi 2 yaitu problem internal kelembagaan dan parental choice of educations. Pertama, masalah tersebut adalah sistem kependidikan, kualitas dan kuantitas guru, kurikulum serta sarana fisik serta fasilitas. Kedua, adalah pandangan umum tentang tuntutan masyarakat akan pendidikan, yaitu masyarakat akhir-akhir ini memandang bahwa pendidikan sebagai bentuk investasi, baik modal maupun manusia dalam konteks meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang mempunyai daya produktif.
C. Solusi
Budaya dalam suatu organisasi atau budaya organisasi bisa dirasakan keberadaannya dan nampak melalui prilaku anggota karyawan (Tenaga Pendidik dan tenaga kependidikan) dalam organisasi (sekolah) itu sendiri. Budaya organisasi dibentuk melalui proses pembentukan.
1. Kebudayaan mengandung suatu pola, cara-cara berfikir, berfrilaku, merasa, menanggapi dan menuntun para anggota dalam organisasi. Sehingga, budaya organisasi akan berpengaruh juga terhadap efektif atau tidaknya suatu organisasi.
2. Budaya organisasi merupakan bagain dari lingkungan belajar yang akan mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku seseorang, sebab dalam melaksanakan tugas sekolah seorang siswa akan selalu berinteraksi dengan lingkungan belajarnya. Sederhananya adalah budaya organisasi sebagai keadaan sosial dan budaya sekolah yang mempengaruhi tingkah laku orang di dalamnya. Iklim sekolah sebagai suasana sekolah yang baik di mana keadaan sekitar dirasakan tenteram, mesra, riang dengan pembelajaran yang lancar. Selain berdampak positif pada pencapaian hasil akademik siswa. Dari sinilah kemudian budaya organisasi mempunyai peran penting dalam pembelajaran, baik dalam kelas maupun diluar kelas.
3. Dalam Sulistyorini, Fred Luthan menjelaskan enam karakteristik penting dari budaya organisasi, yaitu:
- Observed behavioral reguralities, yaitu keberaturan cara bertindak dari para anggota yang tampak teramati.
- Norms, yaitu berbagai standar perilaku yang ada, termasuk didalamnya tentang pedoman sejauh mana suatu pekerjaan harus di lakukan.
- Dominant values, yaitu adanya nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota organisasi.
- Philosophy, yaitu adanya kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan keyakinan organisasi dalam memperlakukan pelanggan dan karyawan.
- Rules, yaitu adanya pedoman yang ketat, dikaitkan dengan kemajuan organisasi.
- Organization climate, merupakan perasaan keseluruhan yang tergambarkan dan disampaikan melalui kondisi dan tata ruang, cara berinteraksi para anggota organisasi dan cara anggota organisasi memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain.
Perilaku organisasi pada hakikatnya mendasarkan pada ilmu perilaku yang dikembangkan denganpusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam suatu organisasi. Kerangka dasar bidang pengetahuan ini harus didukung paling sedikit dua komponen yakni individu-individu yang berprilaku dan organisasi formal sebagai wadah. Perilaku organisasi pendidikan, menurut teori sistem sosial merupakan sebuh fungsi antara tuntutan-tuntutan perangkat organisasi dengan kebutuhan-kebutuhan individu dalam organisasi . Perubahan aspek-aspek dan tingkat administrasi serta suatu peningkatan kemampuan teknik manajerial pendidikan itu membutuhkan dukungan budaya organisasi. Dalam hubungan ini, budaya organisasi kreativogenik (Supriadi dalam Idochi, 2004) perlu dikembangkan guna mendukung desentralisasi pendidikan ditingkat satuan pendidikan.

1 komentar:

  1. berikut kami sajikan paper mengenai budaya organisasi

    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2662/1/Psi-7.pdf

    BalasHapus

Silahkan tulis pendapat atau kritik dan saran Anda...
Terimakasih